Jumat, 9 Januari 2026
Erika FannyBy Erika Fanny

Renungan 10 Januari 2025

Renungan 10 Januari 2025

10 Januari 2026, jam 03.30 wib. Saat teduh subuh bersama Pdt. Dr. Erika Fanny

Matius 7:1, “Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”

"Jangan menghakimi”, kalimat ini bukan ditujukan pada profesi tertentu (hakim, pemimpin atau rohaniwan) melainkan pada kecenderungan manusia. Manusia menghakimi pada hal-hal yang tampak seperti kelemahan, kegagalan moral, cara hidup, iman orang lain, bahkan cara seseorang menderita sakit.

Orang yang sakit berat kerap dihakimi karena “kurang iman”; Janda dinilai dari kisahnya di masa lalu, lanjut usia dihakimi karena dianggap tidak produktif, istri hamba Tuhan dihakimi karena dituntut selalu kuat dan sempurna.

Mengapa ini terjadi? Karena lebih mudah orang melihat serpihan kayu di mata orang lain kesalahan kecil yang tampak jelas daripada balok di mata sendiri.

Menghakimi orang lain seolah kita lebih benar, lebih hebat, lebih rohani, lebih aman dibanding orang lain, padahal sesungguhnya kita pun tidak luput dari kelemahan yang sama.

Menghakimi (krinō) artinya bukan hanya menilai, tetapi memutuskan dan menjatuhkan vonis pada apa yang dilihatnya Inilah bagian yang sering sulit dipahami. Tuhan Yesus tidak melarang kita membedakan benar atau salah, tetapi melarang sikap hati kita yang mengambil posisi Allah dengan menutup kemungkinan ada anugerah pertobatan bagi orang lain

Kesadaran untuk berhenti menghakimi lahir ketika seseorang berani bercermin ke dalam dirinya sendiri, menyadari bahwa kitapun hidup oleh belas kasihan Allah, bukan oleh kesempurnaan hidup seolah-olah kita telah jalani.

Setiap kita tidak luput menghadapi penghakiman Allah. Maka kasih karunia Allah seharusnya membuat kita harus sadar melihat kedalam diri sendiri dan cara pandang sesama, mendoakan dia kepada Allah serta punya hati mengasihi. 📌