Tema label dalam diriku. Bersama Pdt. Dr. Erika Fanny

Matius 26:6, ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta
Di Betania, sebuah desa kecil dekat Yerusalem, Yesus Kristus datang ke rumah seorang yang dikenal sebagai Simon si Kusta (Matius 26:6).
Penyakit “Kusta” pada masa itu adalah penyakit kulit kronis yang sangat ditakuti dan dianggap najis secara sosial maupun agama.
Orang yang terkena kusta harus diasingkan, dijauhi, bahkan kehilangan martabatnya sebagai seorang manusia di tengah masyarakat.
Secara medis, pada zaman itu hampir tidak ada pengobatan efektif, sehingga kesembuhan dianggap mujizat.
Ketika Yesus datang ke rumah Simon, besar kemungkinan Simon sudah disembuhkan sebab seorang yang masih aktif terkena kusta tidak akan diperkenankan tinggal bersama orang lain, apalagi menerima tamu.
Namun menariknya label “si kusta” tetap melekat pada namanya. Seolah dunia tidak mudah melupakan masa lalu seseorang, meski Tuhan telah memulihkan.
Tetapi bagi Simon, rumahnya menjadi tempat kesaksian, tempat di mana luka lama tidak lagi menjadi aib, melainkan bukti kasih Tuhan yang nyata.
Sahabat pejuang kanker, sahabat janda, sahabat istri hamba Tuhan, Simon tidak menyembunyikan dirinya, tidak menutup pintu karena masa lalunya, tidak minder oleh label yang masih menempel padanya.
Ia justru membuka rumahnya bagi Yesus. Inilah damai yang sejati bukan ketika label itu hilang, tetapi ketika hati kita tidak lagi diperbudak olehnya.
Kita mungkin masih dipanggil “si kanker”, “si janda”, atau “si lanjut usia”, " si istri pendeta", tetapi di hadapan Tuhan, identitas kita tidak pernah ditentukan oleh label itu.
Pagi ini doa kita, “Tuhan, apa pun label dalam diriku, aku tetap mengasihiMu. Datanglah ke dalam rumahku, ke dalam hatiku. Biarlah hidupku menjadi tempat Engkau berdiam, bukan karena aku sempurna, tetapi karena Engkau berkenan."📌