Minggu, 28 Desember 2025
Erika FannyBy Erika Fanny

Renungan 29 Desember 2025

Renungan 29 Desember 2025

selamat pagi sahabat IC3 kanker dan pendamping, sahabat IC3 Filia single parent community, sahabat DBS pembaca Alkitab, sahabat guru dan orangtua rumah belajar satu visi bagi Indonesia, sahabat para istri hamba Tuhan di Kalbar 29 Des 2025, jam 04.00 wib, saat teduh subuh bersama Pdt. Dr. Erika Fanny

Matius 4:19, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Danau Galilea lokasi para nelayan sederhana yang bekerja keras, hidup dari hari ke hari, akrab dengan jala, angin dan ketidakpastian hidup. Di sanalah Yesus berdiri bukan di istana, bukan di bait suci dan memanggil Simon dan Andreas. Mereka bukan orang terdidik, bukan tokoh penting, hanya pekerja oleh rutinitas hidup.

Namun justru kepada mereka Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku.” Ajakan ini bukan sekadar berpindah pekerjaan, tetapi berpindah makna hidup. Mereka mengikuti Yesus bukan karena masa depan terlihat jelas, melainkan karena suara itu membawa harapan yang lebih dalam daripada hasil tangkapan ikan.

Ada saat dalam hidup terutama ketika sakit berat, kehilangan pasangan, menua atau menjalani pelayanan di tempat terpencil, di mana kita pun berdiri di “danau Galilea” kita sendiri, tempat biasa, hidup yang tidak spektakuler, namun di sanalah Tuhan memanggil.

Ketika Yesus berkata, “Kamu akan Kujadikan penjala manusia,” Ia tidak sedang memberi target besar, melainkan memberi tujuan baru. Penjala manusia bukan soal jumlah, keberhasilan atau prestasi rohani, tetapi tentang kehadiran yang menyelamatkan menarik orang dari keputusasaan menuju harapan dari kesendirian menuju persekutuan.

Dunia membutuhkan penjala manusia karena banyak jiwa tenggelam dalam luka, sakit dan jalan hidup yang gelap. Bahkan ketika tubuh lemah dan langkah terbatas, panggilan itu tidak dicabut.

Mengikuti Yesus berarti tetap berjalan bersamaNya dan menjadi penjala manusia berarti membiarkan hidup kita dalam kelemahan, kesetiaan dan ketekunan menjadi jala kasih bagi orang lain.

Tuhan tidak menunggu kita kuat tetapi Ia memanggil supaya hidup kita, apa adanya, tetap bermakna 📌