Renungan 5 Januari 2025

Selamat pagi sahabat IC3 (Indonesia Christian Cancer Community), sahabat IC3 Filia single parent community, sahabat DBS (Discovery Bible Study), sahabat guru dan orangtua rumah belajar satu visi bagi Indonesia, Sahabat Para Istri hamba Tuhan di Kalbar 5 Januari 2026, jam 03.40 wib, saat teduh subuh bersama Pdt. Dr. Erika Fanny
Matius 5:31-32, Telah dikatakan siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Namun aku berkata kepadamu, setiap orang menceraikan istrinya kecuali karena zina,ia menjadikan istrinya berzina dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.
Pada zaman itu, perceraian relatif mudah bagi laki-laki. Berdasarkan Taurat (Ulangan 24:1), seorang suami cukup memberikan surat cerai kepada istrinya. Secara hukum dan sosial, surat itu melindungi perempuan agar dianggap “sah” berpisah dan boleh menikah lagi, tetapi dalam kenyataannya sering dipakai untuk melegalkan ketidaksetiaan dan ketidakadilan.
Banyak perempuan terutama yang lemah, usia mulai lanjut dengan fisik berubah, hidup selalu bergantung penuh pada suami, mengalami sakit berat menjadi korban keputusan sepihak.
Karena itulah Yesus mengangkat tema perceraian bukan sekadar soal boleh atau tidak, tetapi soal hati manusia Perceraian (apolýō, “melepaskan/menyuruh pergi”) pada dasarnya adalah pemutusan perjanjian yang seharusnya kudus dan setia.
Yesus tidak sedang mendorong perceraian, melainkan mengoreksi pemahaman yang meremehkan kesetiaan. Yesus mengajak umat melihat pernikahan sebagai perjanjian kasih yang melindungi, bukan alat kekuasaan.
Allah melihat luka yang sering disembunyikan di balik legalitas. Yesus lalu berbicara lebih dalam tentang zina bukan hanya perbuatan fisik, tetapi pengkhianatan perjanjian. Zina adalah tindakan dosa yang serius dan “ia menjadikan istrinya berzina”, bukan menyalahkan korban, melainkan menyingkap dampak struktural dari keputusan yang tidak adil.
Demikian pula, “siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina”, menegaskan bahwa luka perceraian yang tidak benar akan menjalar dan merusak relasi-relasi berikutnya.
Yesus tidak sedang menambah beban hidup perempuan, Ia justru membela yang lemah dan memanggil semua orang pada pertobatan hati yaitu kesetiaan, tanggung jawab dan belas kasih.
Bagi jiwa yang terluka, sahabat ingatlah bahwa Allah adil, Allah peduli dan Allah memulihkan martabat yang tercabik oleh keputusan manusia.📌