Senin, 5 Januari 2026
Erika FannyBy Erika Fanny

Renungan 6 Januari 2025

Renungan 6 Januari 2025

Selamat pagi sahabat IC3 (Indonesia Christian Cancer Community), sahabat IC3 Filia single parent community, sahabat DBS (Discovery Bible Study), sahabat guru dan orangtua rumah belajar satu visi bagi Indonesia, sahabat para istri hamba Tuhan di Kalbar Selasa, 6 Januari 2026, jam 04.30 wib, saat teduh subuh bersama Pdt.Dr. Erika Fanny

Matius 5:37, jika ya, hendaklah kamu katakan ya dan jika tidak hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat

Dalam pengajaran Tuhan Yesus tentang khotbah di bukit mengangkat soal sumpah. Pada zaman nenek moyang Israel, sumpah adalah perkara serius. Mereka diajar “Jangan bersumpah palsu dan peganglah sumpahmu kepada Tuhan.”

Dalam budaya itu, orang sering bersumpah demi nama Allah, demi langit, demi bumi atau demi sesuatu yang dianggap suci, tujuan untuk meyakinkan orang lain bahwa perkataannya benar.

Namun Yesus masuk lebih dalam bahwa masalahnya bukan hanya sumpah palsu, tetapi hati manusia yang merasa perlu bersumpah agar dipercaya. Karena itu Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, katakan tidak.” Tuhan menyingkapkan bahwa di balik kebiasaan cepat bersumpah, sering tersembunyi ketidakjujuran, ketakutan, atau hati manipulasi. Maka Yesus melarang bersumpah demi apa pun, sebab segala sesuatu berada di bawah kedaulatan Allah dan manusia tidak berkuasa menjaminnya.

Sahabat tengah berjuang dalam sakit berat, sahabat janda, sahabat pembaca Alkitab, sahabat lanjut usia atau sahabat istri hamba Tuhan, Firman ini menjadi penghiburan dan panggilan yang bagi kita bahwa di tengah penderitaan, kesepian dan tekanan hidup, kita sering tergoda berjanji berlebihan kepada Tuhan, kepada orang lain, bahkan kepada diri sendiri demi berharap hidup menjadi lebih aman. Pagi ini kita dibukakan dalam Firman Allah untuk kita hidup dalam kejujuran yang tenang, berkata apa adanya, tanpa topeng, tanpa janji yang berat.

“Lebih dari itu berasal dari si jahat,” artinya segala kata yang tidak lahir dari hati yang lurus, sederhana dan jujur, sesungguhnya membuka celah bagi kegelapan timbul rasa bersalah, ketakutan dan beban rohani yang tidak perlu. Ketika kita berkata “ya” dengan iman dan “tidak” dengan damai, hidup kita menjadi kesaksian bahwa kebenaran tidak perlu disumpahi, karena ia hidup dalam keseharian bersama Allah.📌