Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya datang

Matius 24:45, Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya datang.
Perkataan Yesus sangat serius tentang kesiapan, kesetiaan dan hati seorang hamba. Pada masa itu seorang hamba adalah orang yang hidupnya berada di bawah kuasa tuannya, seharusnya ia tidak lagi hidup semaunya sendiri, melainkan menjalankan kehendak tuannya.
Namun Yesus menunjukkan sesuatu yang dalam, tidak semua hamba memiliki hati yang sama. Ada hamba yang setia dan bijaksana, ada juga hamba yang jahat.
Mengapa? Karena seseorang bisa saja tampak melayani, tetapi batinnya tidak sungguh-sungguh tunduk. Ia bekerja bukan karena kasih dan tanggung jawab, melainkan karena ingin dipuji, ingin terlihat baik, ingin “cari muka”, atau menyimpan tujuan tersembunyi.
Hamba yang setia adalah hamba yang tetap benar saat dilihat maupun tidak dilihat oleh tuannya, tetap punya hati mengasihi, tetap menjalankan bagiannya, tetap menjaga hati, tetap memberi “makanan pada waktunya” , artinya ia dipercaya Tuhan untuk tetap bekerja.
Itu sebabnya hamba yang setia dipuji dan diangkat pada tanggung jawab yang lebih besar, sebab Tuhan melihat bahwa hatinya dapat dipercaya.
Sahabat tengah berjuang dalam sakit berat, sahabat janda dalam kehilangan, sahabat lanjut usia, atau sahabat istri hamba Tuhan, firman ini penting bagi kita.
Saat tubuhmu tidak lagi kuat, langkahmu tidak lagi cepat dan hidupmu tidak lagi seperti dulu, tetapi engkau tetap bisa menjadi hamba yang setia.
Kesetiaan tidak selalu berarti panggung besar, pelayanan ramai atau kekuatan fisik yang utuh; sering kali kesetiaan justru terlihat dalam doa yang tidak putus, hati yang tetap tulus, ucapan yang tidak pahit dan hidup yang tetap bersandar pada Tuhan.
Hamba yang jahat adalah orang yang ketika merasa “Tuan belum datang”, lalu hidup seenaknya, mengambil alih seolah dirinya adalah tuan atas hidup bagi diri dan orang lain, ia melukai orang lain dan bekerja semena-mena.
Tetapi hamba yang baik hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan melihat, Tuhan akan datang dan Tuhan adil.
Maka hari ini, doa yang paling indah bukanlah “Tuhan, beri aku posisi besar,” melainkan, “Tuhan, ajarkan aku selalu punya hati yang tulus. Biarlah saat Engkau datang, Engkau mendapati aku tetap setia.”