Renungan 7 Januari 2025

Selamat pagi sahabat IC3 (Indonesia Christian Cancer Community), sahabat IC3 Filia (Single Parent Community), sahabat DBS (Discovery Bible Study), sahabat guru dan orangtua rumah belajar satu visi bagi Indonesia, sahabat para istri hamba Tuhan di Kalbar Rabu, 7 Januari 2026, jam 03.30 wib. Saat teduh subuh bersama Pdt. Dr. Erika Fanny. Doakan pelayanan malam ini di Mojokerto
Matius 6:14-15, karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, bapamu yang disurga akan mengampuni kamu juga. Namun jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu
Tuhan Yesus mengajar tentang memberi sedekah, berpuasa juga berdoa bukan untuk pamer, melainkan sebagai relasi hubungan yang tulus antara manusia dengan Allah. Tuhan Yesus mengajarkan doa karena meskipun setiap orang bisa berdoa, tidak semua orang berdoa dengan benar.
Doa yang salah bukan soal kata-kata yang keliru, tetapi hati yang keliru, doa yang penuh ego untuk kepentingan sendiri, menuntut, memaksa Allah atau sekadar ritual kosong. Banyak orang memandang Allah seperti mesin pengabul doa, maka jika doanya tidak dijawab, Allah dianggap jauh atau tidak peduli.
Karena itu Yesus memberikan Doa Bapa Kami. Doa yang sederhana, tidak bertele-tele, namun sangat dalam mengakui Allah sebagai Bapa, tunduk pada kehendakNya, bersandar pada pemeliharaanNya dan hidup dalam relasi yang benar dengan sesama.
Doa ini membentuk hati, bukan sekadar menyampaikan permintaan. Menariknya, setelah Doa Bapa Kami selesai, Yesus justru menegaskan satu hal secara khusus, yaitu pengampunan.
Dua ayat ini (6:14–15) menjadi kunci penutup pengajaran tentang doa. Mengapa? Karena pengampunan adalah jantung relasi kita dengan Allah.
Sahabat tengah bergumul dengan sakit berat, sahabat dalam usia lanjut kekuatan badan makin menurun , sahabat pembaca Alkitab yang mengumpulkan Firman dan kehidupan sehari-hari, sahabat para janda yang hidup dalam perjuangan, kehilangan, sakit berat, usia makin senior, pelayanan sering dilupakan, bisa saja menyimpan luka kepahitan, kekecewaan, dan rasa tidak adil. Namun Yesus mengajar bahwa doa tidak akan mengalir bebas dari hati yang tertutup oleh dendam.
Bukan karena Allah kejam, tetapi karena hati yang tidak mau mengampuni sedang menutup dirinya sendiri dari anugerah Allah.
Sahabat, Pengampunan bukan berarti melupakan luka atau membenarkan kejahatan, melainkan memilih melepaskan hak untuk membalas dan menyerahkan penghakiman kepada Allah.
Saat kita mengampuni, kita sedang menyatukan hati kita dengan hati Bapa dan di situlah doa menjadi hidup, disembuhkan dan berkuasa.