Renungan 9 Januari 2025

Selamat pagi sahabat IC3 Indonesia Christian Cancer Community, sahabat IC3 Filia Single Parent Community, sahabat DBS pembaca Alkitab, sahabat guru dan orangtua rumah belajar satu visi bagi Indonesia, sahabat para istri hamba Tuhan di Kalbar 9 Januari 2026, Jumat . Jam 03.00 wib. Saat teduh subuh bersama Pdt. Dr. Erika Fanny
Matius 6:31-32, karena itu janganlah khawatir dan berkata apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa bangsa yang tidak mengenal Allah, padahal Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu
“Jangan kuatir", Mengapa kuatir harus diawali dengan kata jangan? Karena kuatir bukan sekadar perasaan, tetapi sikap hati yang perlahan mencuri iman. Bisakah manusia tidak kuatir sama sekali? Secara manusiawi, tidak. Namun Yesus tidak sedang menuntut manusia menjadi tanpa rasa, melainkan mengajak kita tidak tinggal dan menetap di dalam kuatir.
Kuatir manusia paling sering berakar pada hal paling dasar seperti makan, minum dan pakaian, ini kebutuhan sehari-hari yang menentukan apakah kita bisa bertahan hidup hari ini
Sahabat tengah berjuang dalam sakit berat,sahabat para janda, sahabat lanjut usia atau sahabat para istri hamba Tuhan, pertanyaan itu sangat nyata dalam hidup kita. Besok makan apa? biaya darimana? tubuh ini apa masih sanggup?
Kuatir akan minum bisa saja berarti takut kehabisan kekuatan. kuatir akan apa yang dipakai bisa saja berarti takut kehilangan martabat, perlindungan dan rasa aman.
Tuhan Yesus lalu mengguncang cara berpikir kita dengan kalimat yang tajam namun membebaskan yaitu “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” Artinya, hidup yang digerakkan sepenuhnya oleh kecemasan akan kebutuhan dasar adalah ciri hidup tanpa relasi atau hubungan dengan Bapa.
Bukan berarti kebutuhan itu salah, tetapi ketika kebutuhan menjadi pusat hidup, Allah tersingkir ke pinggir Di sinilah Yesus menegaskan kebenaran yang menenangkan hati kita, “Padahal Bapamu di sorga tahu kamu memerlukan semuanya itu.”
Kata tahu bukan sekadar mengetahui, melainkan peduli dan terlibat dalam hidup kita. Ia adalah Bapa yang lebih dahulu aktif sebelum kita meminta.
firman ini mengajarkan kita untuk meletakkan beban yang seharusnya kita tidak pikul sendiri dalam kwatir, juga bukan menyangkal kenyataan hidup, tetapi menyerahkan kendali hidup pada Allah. Kita boleh punya kebutuhan, tetapi kebutuhan tidak boleh memiliki kita.
Ketika kita berhenti dikuasai kuatir, kita sedang berkata hidupku bukan dipegang oleh keadaan, tetapi oleh Bapa yang tahu, hadir, dan setia. Ia pusat hidupku dan aku percaya padaNya seumur hidupku 📌