DI MANAKAH ENGKAU DI BALIK ANGKA & JERUJI: PERJALANAN IDENTITAS, LUKA BATIN, DAN PEMULIHAN MANUSIA

DI MANAKAH ENGKAU DI BALIK ANGKA & JERUJI: PERJALANAN IDENTITAS, LUKA BATIN, DAN PEMULIHAN MANUSIA

Di Manakah Engkau? Di Balik Angka dan Jeruji: Perjalanan Identitas, Luka Batin, dan Pemulihan Manusia membawa pembaca memasuki kisah nyata sepuluh perempuan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Semarang. Di balik perkara hukum, narkoba, dan tembok penjara, mereka hadir sebagai manusia yang memikul luka, kehilangan, rasa bersalah, trauma, kecanduan, penolakan, serta kerinduan untuk diterima kembali. Melalui perjalanan Hen, Din, Nik, Kar, Dev, Feb, Emi, End, Mar, dan Dia, pembaca diajak mendengar pertanyaan terdalam tentang kekuatan, rumah, penerimaan, identitas, pengorbanan, sandaran, pengampunan, dan harapan. Setiap kisah dibaca melalui empat cermin: pengalaman hidup, psikologi, Psikometafisika, dan Imago Dei. Angka Akar Reflektif tidak digunakan untuk meramal nasib atau memberi label, melainkan sebagai simbol yang membuka dialog dan membantu mengenali pola kehidupan. Batu, rumah, jendela, pintu, cermin, jam pasir, tongkat, tangan terbuka, fajar, dan benih menjadi metafora bagi pergulatan batin sekaligus arah pemulihan setiap tokoh. Dengan pendekatan hermeneutik, penulis menunjukkan bahwa perilaku tidak pernah berdiri sendiri; di baliknya terdapat pengalaman dan narasi identitas yang perlu dipahami secara utuh. Namun pemahaman psikologis bukanlah tujuan akhir. Dalam terang keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, martabat seseorang tidak lenyap karena kesalahan, hukuman, ataupun masa lalu. Buku ini tidak membenarkan kejahatan, tetapi menolak memenjarakan manusia selamanya dalam stigma. Pada akhirnya, kisah-kisah tersebut menjadi cermin bagi setiap pembaca yang pernah tersesat atau terluka. Dilengkapi refleksi penulis dan pertanyaan perenungan, setiap bab mengundang pembaca berhenti, bercermin, serta membaca kembali kisah hidupnya dengan jujur di hadapan Allah sendiri. Perjalanan pulang dimulai ketika seseorang berani menjawab panggilan Allah, keluar dari persembunyian, menerima kasih karunia, dan menemukan kembali identitasnya sebagai pribadi yang dikenal, dikasihi, dipulihkan, serta selalu memiliki harapan untuk memulai kehidupan baru bersama Tuhan.