
Hidup Ini adalah Siklus Kehilangan
Setiap manusia pasti mengalami kehilangan. Kita kehilangan waktu, masa muda, orang yang dikasihi, kesempatan, harapan, bahkan versi diri yang dahulu pernah kita kenal. Namun sering kali, kehilangan dipandang sebagai gangguan dalam hidup, merupakan sesuatu yang harus segera diselesaikan, disembuhkan, atau dilupakan. Buku Hidup Ini adalah Siklus Kehilangan hadir untuk membongkar cara pandang itu dengan tegas: kehilangan bukanlah penyela kehidupan, melainkan bagian dari struktur kehidupan itu sendiri. Melalui pendekatan teologi kontemporer, psikologi, dan refleksi iman yang mendalam, buku ini menuntun pembaca untuk memahami bahwa hidup tidak selalu bergerak secara linear menuju keberhasilan. Hidup berjalan dalam siklus: ada waktu menerima, ada waktu melepas; ada waktu menangis, ada waktu menari. Di tengah siklus itu, pembaca diajak untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, berhenti memandang kehilangan sebagai hukuman Tuhan, dan mulai melihat bahwa Tuhan tidak pernah menjauh dari manusia yang patah. Justru dalam duka, Ia hadir sebagai Pribadi yang menemani, menopang, dan memberi makna baru. Buku ini juga tidak berhenti pada perenungan. Pembaca diajak masuk ke praktik nyata: merawat luka melalui doa, jurnal, komunitas, dan ritual kecil yang menguatkan jiwa. Dengan bahasa yang puitis namun tetap tegas, buku ini menjadi teman perjalanan bagi siapa pun yang sedang kehilangan, pernah kehilangan, atau takut kehilangan. Ini bukan buku yang menjanjikan hidup tanpa air mata, tetapi buku yang meneguhkan bahwa tidak ada satu pun air mata yang sia-sia ketika dijalani bersama Tuhan.