
Pendidikan Warga Jemaat sebagai Jantung Pertumbuhan Gereja: Landasan Teologis, Historis, dan Filosofis bagi Jemaat yang Dewasa dalam Kristus
Gereja yang ramai belum tentu merupakan gereja yang bertumbuh. Banyaknya kegiatan, tingginya kehadiran, dan padatnya program pelayanan dapat terlihat mengesankan, tetapi belum tentu menghasilkan jemaat yang dewasa dalam Kristus. Buku ini mengajak pembaca melihat kembali pendidikan warga jemaat sebagai jantung pertumbuhan gereja, bukan sekadar program tambahan atau kegiatan bagi kelompok usia tertentu.
Berangkat dari Efesus 4:11-16, pembahasan menempatkan Kristus sebagai Kepala Gereja dan para pemimpin sebagai pihak yang memperlengkapi seluruh jemaat untuk melayani. Amanat Agung dipahami sebagai mandat untuk membentuk murid yang mengenal kebenaran, hidup dalam ketaatan, dan mampu memuridkan orang lain. Ulangan 6:4-9 kemudian memperlihatkan bahwa keluarga dan komunitas iman merupakan ruang penting untuk mewariskan iman melalui pengajaran, keteladanan, percakapan, dan kehidupan sehari-hari.
Buku ini juga membahas gereja sebagai tubuh Kristus, imamat am orang percaya, serta tanggung jawab setiap anggota untuk belajar, melayani, dan bersaksi. Jejak pendidikan iman ditelusuri dari Perjanjian Lama, gereja mula-mula, masa Reformasi, perkembangan sekolah Minggu, hingga konteks gereja Indonesia masa kini. Pembaca diperkenalkan pada pembelajaran sepanjang hayat yang mempertimbangkan pengalaman, tahapan usia, dialog, refleksi, dan penerapan nyata.
Penjelasannya menolong pembaca memahami bahwa pembentukan iman menyentuh kepala, hati, tangan, dan relasi: pengetahuan yang benar, kasih kepada Allah dan sesama, tindakan pelayanan, serta kehidupan komunitas yang saling menguatkan dalam menghadapi perubahan zaman dan beragam tantangan kehidupan.
Pada akhirnya, pendidikan warga jemaat diarahkan untuk menghubungkan penginjilan dengan pemuridan, membangun karakter, mengembangkan pemimpin, dan menciptakan budaya belajar dalam gereja. Dengan pertanyaan refleksi, peta konsep, ringkasan eksegesis, tabel pemuridan, glosarium, serta bahan diskusi, buku ini menjadi sumber yang bermanfaat bagi pendeta, majelis, pelayan, mahasiswa teologi, orang tua, dan warga jemaat yang merindukan gereja yang sehat, dewasa, tangguh, serta mampu bermultiplikasi.